Tuangkan Kreativitas, Guru MUSERA Ikut Membatik

Kulon Progo (MUSERA) – Batik adalah warisan budaya agung yang dimiliki Indonesia. Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UNESCO) telah mengukuhkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan non bendawi. KKG MI Muhammadiyah Serangrejo, Sabtu (24/10/2020) melaksanakan kegiatan membatik yang diikuti oleh seluruh guru MI Muhammadiyah Serangrejo. Kegiatan ini bertujuan memberikan ruang ekspresi untuk mengembangkan kreasi guru-guru di tengah situasi BDR (Belajar Dari Rumah).

Kegiatan tersebut dipandu oleh Wantoro Suprianto salah satu pengrajin batik di Kulon Progo. Dimulai dengan menyiapkan alat dan bahan seperti kain bisa terbuat dari sutra atau katun, canting sebagai alat pembentuk motif, gawangan (tempat untuk menyampirkan kain), Lilin (malam) yang dicairkan, panci dan kompor kecil untuk memanaskan.

Kemudian dilanjutkan membuat motif batik pada kain mori menggunakan pensil. Motif yang dibuat yaitu geblek renteng yang merupakan motif batik khas Kulon Progo. Setelah selesai membuat motif selanjutnya melukis dengan lilin (malam) menggunakan canting dengan mengikuti pola. Tahap berikutnya menutup dengan lilin (malam) pada bagian-bagian yang akan tetap berwarna putih.

Proses pewarnaan pertama pada bagian yang ditutup oleh lilin dengan mencelupkan kain pada pewarna. Setelah dicelupkan, kain dijemur/dikeringkan. Sesudah kering, kembali melakukan proses pembatikan yaitu melukis dengan lilin (malam) memakai canting buat menutup bagian yang akan tetap dipertahankan pada pewarnaan yang pertama. Selanjutnya proses pencelupan warna yang kedua.

Sesudah itu, menghilangkan lilin (malam) dari kain dengan cara meletakkan kain tersebut dengan air panas di atas tungku. Setelah bersih dari lilin dan kering, kembali proses pembatikan dengan penutupan lilin (menggunakan alat canting) untuk menahan warna pertama dan kedua. Proses membuka dan menutup lilin (malam) dilakukan berulang kali. Proses selanjutnya nglorot, kain yang telah berubah warna direbus air panas. Tujuannya menghilangkan lapisan lilin dan motif terlihat jelas. Proses terakhir mencuci kain batik, dan mengeringkan dengan menjemurnya sebelum dapat digunakan dan dipakai.

Ketua KKG MI Muhammadiyah Serangrejo, Tentrem mengungkapkan bahwa kegiatan membatik ini bertujuan untuk menuangkan kreativitas guru-guru dan juga menambah pengetahuan. “Harapannya setelah melaksanakan kegiatan membatik guru-guru memilki pengalaman berkreasi melalui batik dan juga bisa mengajarkan membatik kepada anak-anak ketika sudah masuk sekolah besok,” ungkapnya.

Kepala MI Muhammadiyah Serangrejo, Sumarsih mengatakan bahwa selain untuk menambah kreativitas guru-guru, kegiatan membatik ini juga bisa menyegarkan pikiran selama BDR. “Kegiatan ini bisa menjadi sarana refreshing bagi guru-guru kami setelah penat melaksanakan BDR,” ungkap Sumarsih. (iwn/abi).

Tetap sehat dan semangat

#LawanCovid-19

Tinggalkan Balasan