Dialog FPLA, Jangan Terprovokasi Isu SARA

Kulon Progo (FPLA) – Hujan lebat yang mengguyur tidak menyurutkan pemuda yang berasal dari berbagai organisasi kepemudaan di Kulon Progo untuk menghadiri dialog pemuda yang dilaksanakan di Joglo Sanggar Krisna Budaya, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Temon (10/01/2020). Dialog pemuda mengambil tema rukun agawe sentosa, crah agawe bubrah.

Kegiatan dialog diinisiasi oleh Forum Pemuda Lintas Agama (FPLA) Kulon Progo bekerjasama dengan Karang Taruna Temon dan didukung oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kulon Progo serta Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (PUSHAM UII). Dialog menghadirkan pembicara Budi Hartono dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kulon Progo dan Deonida Yosi Rasdyasivi selaku anggota FPLA Kulon Progo. Selain itu, turut hadir juga Pdt. Kristian dari GKJ Temon dan Agung Mabruri Asrori selaku Ketua FKUB Kulon Progo dan Muktaf Ajib selaku Ketua FPLA.

Dialog diawali dengan pertunjukan musik akustik dan dilanjutkan tarian jatilan anak dari Sanggar Tari Sekar Kenes. Selanjutnya dalam sambutan Pdt. Kristian mengingatkan pentingnya kedewasaan umat beragama agar dapat merajut tali persaudaraan satu sama lain. Sementara Agung Mabruri menyampaikan pentingnya membangun kerukunan para pemuda agama agar tidak mudah terprovokasi oleh isu agama. Sedangkan Muktaf Ajib menyampaikan para pemuda dari berbagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan bisa saling berjumpa dan bekerjasama satu sama lain.

Budi Hartono dalam pemaparannya mengingatkan kembali besarnya peran pemuda dalam pembangunan bangsa. Dalam pergerakan nasional ada organisasi Budi Utomo, para pemuda di kongres pemuda 1 dan 2 yang menghasilkan sumpah pemuda dan para pemuda perumus kemerdekaan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang suku dan agama bersatu merumuskan negara bangsa. “Negara kita dibangun sebagai negara kebangsaan, bukan negara agama”, ucapnya.

Pemuda di zaman pergerakan nasional sudah bersatu memikirkan negara bangsa, maka anak muda jangan mau diprovokasi isu SARA. Menurut Budi Hartono, negara Indonesia yang luas dan kaya menjadi incaran berbagai pihak karenanya banyak yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan melalui isu SARA. Banyak pihak yang menginginkan anak muda menjadi pemimpin di masa mendatang karena tingkat kecerdasan dan kesadarannya menurun lewat narkoba. Untuk itu, “Jaga kerukunan intern agama, ekstern agama dan agama dengan pemerintah serta jauhi narkoba,” tuturnya.

Sementara Deonida Yosi Rasdyasivi yang pernah mengikuti Sekolah Pengelolaan Keberagaman (SPK) mengajak peserta dialog untuk saling berkenalan, menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dalam perjumpaan lintas agama dan pengalaman yang mengagetkan dalam menjalin persahabatan lintas agama. Dengan begitu satu sama lain menjadi mengerti dan memahami selaku umat beragama. “Jika ada persoalan yang menyangkut kehidupan umat beragama maka penyelesaiannya bisa dengan cara seperti menyelesaikan hama pertanian kalau warganya petani,” ungkapnya. (her/abi)

Tinggalkan Balasan